Latest News
Sunday, June 22, 2014

Beraqidah Itu Tentram

Bagi umat Islam, mungkin di antara hal yang dapat menentramkan batin mereka adalah keyakinan bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah pasti melalui izin dan kehendak Allah s.w.t semata. Tiada suatu kebaikan ataupun keburukan yang mendatangi seseorang kecuali itu memang telah diatur dan dipersiapkan jauh sebelum kedatangannya, tanpa ada yang bisa menangguhkan ataupun menyegerakannya, dan tiada pula yang akan bisa menghalangi ataupun sampai perlu untuk memaksakannya. Semua ketentuan tentang kebaikan ataupun keburukan telah diukur dan tidak pernah meleset, melainkan selalu tepat menurut hikmah yang telah dikehendaki oleh Allah s.w.t. Dan setiap hikmah biasanya akan dapat diketahui ketika segala sesuatu telah berlalu.

Tiada bentuk rizki yang akan pernah salah alamat, hingga misalnya ketika ia semestinya tertuju kepada seseorang namun ternyata justru sampai kepada seseorang lainnya. Demikian juga dengan perkara kerugian, yang mana tidak akan pernah sampai menimpa seseorang yang seharusnya memang tidak tertimpa kerugian tersebut. Sesungguhnya apa saja bentuk kebaikan ataupun keburukan yang tidak jadi sampai kepada seseorang, maka memang itulah yang sebenarnya harus luput darinya, karena memang itu bukanlah hak atau nasibnya. Tiada bagian seseorang yang akan sampai direbut atau dipergunakan oleh orang lain, dan tiada pula amal seseorang yang akan sampai dikerjakan oleh orang lain. Segala keberuntungan ataupun kerugian pada seseorang tidak akan pernah berganti dengan keberuntungan atau kerugian orang lain, karena sesungguhnya nasib setiap orang itu hanya akan dijalani oleh dirinya sendiri, dan tidak akan pernah tertukar dengan nasib orang lain.

Dan bentuk keyakinan inilah yang akan dapat membantu setiap muslim untuk dapat senantiasa menerima dan mensyukuri segala keadaan yang dialaminya. Keyakinan inilah yang dapat melahirkan kesadaran bahwa sesungguhnya segala bentuk kemudahan yang dialami oleh seseorang pada hakikatnya hanyalah atas kehendak Allah s.w.t semata, dan bukan atas kehendak orang itu sendiri; dan juga bahwa sesungguhnya segala bentuk kesulitan yang menghampiri seseorang, pada hakikatnya juga telah ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah s.w.t, yang memang telah direncanakan untuk menjadi bagian dari jalan cerita kehidupan orang tersebut.

Jalan cerita kehidupan setiap manusia pada hakikatnya telah tertulis lengkap di dalam sebuah kitab, yaitu Lauh Mahfudz, tanpa ada satu celah waktu pun yang belum terisi dengan catatan peristiwa atau kejadian. Demikian juga dengan perkara sifat-sifat manusia dan sifat-sifat segenap makhluk lainnya, baik sifat-sifat fisik maupun non-fisik, yang mana semua itu juga telah secara lengkap tercatat di dalam Lauh Mahfudz. Kaya ataupun miskin, kuat ataupun lemah, besar ataupun kecil, luas ataupun sempit, halus ataupun kasar, basah ataupun kering, dan segala bentuk sifat yang ada pada ciptaan Allah s.w.t sesungguhnya telah tertulis secara sangat terperinci di dalam kitab tersebut, tanpa ada yang terlewatkan. Allah s.w.t berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya berikut ini:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Al-An’aam: 59)

Dan yang demikian itulah wujud iraadah kauniyyah (qadariyyah) Allah s.w.t, yaitu kehendak-Nya dalam menentukan takdir atau nasib bagi segenap makhluk-Nya.

Sesungguhnya, tiada seorang manusia pun yang pernah sanggup memilih nasibnya sendiri, karena tentu jika manusia bisa memilih nasibnya sendiri, maka pasti tiada yang akan memilih untuk menjadi orang yang lemah atau tidak mampu, baik lemah atau tidak mampu secara fisik maupun secara non-fisik. Dan seandainya saja semua manusia ternyata bisa memilih nasibnya masing-masing, lalu semuanya memilih untuk menjadi orang yang mampu, maka tentu akan juga sulit dibayangkan ketika misalnya orang-orang yang kaya sampai tidak bisa mengambil orang-orang tertentu untuk dapat membantu urusan dan keperluan-keperluan di rumah mereka, karena memang ketika itu semua manusia sudah menjadi kaya dalam keadaannya masing-masing. Tentu jika semua manusia telah menjadi kaya, maka tiada lagi yang perlu bekerja kepada orang-orang yang kaya lainnya. Dan keadaan yang semacam itu pasti sangatlah sulit untuk dibayangkan.

Maka di sinilah kita mungkin bisa mengambil hikmah, bahwa ternyata memang demikianlah wujud kesempurnaan cara Allah s.w.t dalam membagi-bagikan anugerah-Nya di antara umat manusia, yaitu dengan melebihkan kemampuan sebagian manusia di atas sebagian lainnya, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dan saling membantu satu sama lain. Sesungguhnya tiada manusia yang mampu, kecuali pasti ia akan memerlukan pertolongan dari orang-orang yang tidak mampu. Dan yang demikian itu adalah bukti bahwa orang-orang yang mampu pun pada dasarnya juga memiliki ketidakmampuan dalam hal tertentu, hingga mereka pun akan harus ditolong oleh orang-orang yang tidak mampu.

Oleh karena itu, dari kenyataan tersebut kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa hakikat kebaikan dalam Islam pada dasarnya tidaklah hanya dapat diraih melalui keadaan manusia tertentu saja, melainkan ia akan dapat diraih oleh siapapun dari umat Islam melalui keadaannya masing-masing. Baik sebagai orang yang kuat ataupun sebagai orang yang lemah fisiknya, mampu ataupun tidak mampu secara materinya, setiap orang dari umat Islam akan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk dapat memperoleh kebaikan dari sisi Allah s.w.t, yaitu ridha dan rahmat-Nya. Sehingga dengan demikian, di antara umat Islam tidak perlu sampai ada kecenderungan untuk saling ingin bertukar nasib atau kebiasaan membanding-bandingkan nasib, karena bagaimanapun juga, semuanya juga sama-sama memiliki kesempatan yang serupa untuk dapat memperoleh kebaikan tersebut.

Dan bentuk keyakinan semacam itu tentu bukanlah dimaksudkan untuk menghalang-halangi umat Islam dari memiliki cita-cita yang lebih baik lagi, melainkan tak lain adalah untuk mengingatkan bahwa sesungguhnya di balik segala kekuatan yang ada pasti terdapat Dzat Maha Kuat yang telah menghendaki kekuatan tersebut, sehingga pada dasarnya kuranglah patut jika pencapaian yang ada hanyalah diakui sebagai hasil dari kemampuan dan jerih payah kita sendiri, tanpa mengakui atau menyadari keterlibatan Allah s.w.t di dalamnya.

Keyakinan yang demikian itulah yang akan dapat membantu orang-orang yang belum dianugerahi keberuntungan tertentu dalam usaha bersyukur atas apa yang telah ada. Dengan memegang keyakinan tersebut, mereka yang cacat fisiknya akan lebih mudah menghindari keluhan atas keadaannya serta mencegah diri mereka dari mendambakan nasib seperti orang lain yang utuh fisiknya; sebagaimana orang-orang yang mampu juga akan terbantu dalam usaha menahan diri mereka dari mencela orang-orang yang lemah; karena bagaimanapun juga, semua kelebihan yang ada pada manusia pada hakikatnya hanyalah semata-mata atas ketentuan Allah s.w.t.

Allah s.w.t telah mengingatkan bahwa segala nikmat yang ada pada manusia sesungguhnya hanyalah pemberian dari-Nya semata, dan bukan dari kemampuan ataupun atas kehendak manusia itu sendiri. Di dalam al-Qur’an disebutkan yang artinya berikut ini:

Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

Sesungguhnya kita hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya-lah kita kembali.” (Al-Baqarah: 156)

Sungguh atas kehendak Allah sajalah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (Al-Kahfi: 39)

Dan tidaklah kalian dapat menghendaki kecuali apabila Allah Tuhan semesta alam menghendaki.” (At-Takwiir: 29)

Maka dari makna ayat-ayat tersebut, kita akan harus mengakui bahwa sebenarnya segala bentuk nikmat, baik berupa kesanggupan, kemudahan, lingkungan, persahabatan, bahkan hingga nikmat iman dan Islam sekalipun, pada hakikatnya juga hanyalah pemberian dari Allah s.w.t semata, dan bukanlah hasil pesanan atau pilihan dari manusia itu sendiri.Jika manusia adalah ibarat daun-daun yang gugur dari sebuah pohon, maka mereka tak pernah bisa memesan atau memilih di sudut bumi sebelah mana mereka akan terjatuh, dan angin semacam apa yang akan membawa mereka bergerak hingga berhenti, sebagaimana mereka tidak pernah bisa memesan atau memilih dari keluarga semacam apa mereka dilahirkan, jalan kehidupan seperti apa yang akan mereka lalui, dan dalam keadaan yang bagaimana mereka akan meninggal dunia.

Segala bentuk nasib, baik berupa kebaikan ataupun keburukan, memperoleh petunjuk ataupun tidak, sesungguhnya telah ditetapkan oleh Allah s.w.t dan telah tertulis di Lauh Mahfuudz jauh sebelum penanggung nasib tersebut diciptakan, tanpa ia bisa memesan atau memilih nasibnya itu sendiri. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dalam al-Qur’an sebagaimana yang artinya berikut ini:

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Al-Qashash: 68)

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadiid: 22)

Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’” (At-Taubah: 51)

Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan marabahaya dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku (sendiri), melainkan apa yang dikehendaki Allah.’ Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).” (Yunus: 49)

Maka Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 4)

Setidaknya, dari makna ayat-ayat tersebut, kita dapat semakin meyakini bahwa sesungguhnya perkara menjadi mampu ataupun lemah, beruntung atau kurang beruntung, hingga bahkan memperoleh hidayah ataupun justru tersesat, pada hakikatnya telah ditetapkan oleh Allah s.w.t jauh sebelum semua itu menjadi kenyataan. Kita mungkin juga ingat ketika dua orang penghuni penjara menanyakan makna dari mimpi mereka masing-masing kepada Nabi Yusuf AS, di mana beliau lantas menjelaskan bahwa perkara yang mereka pertanyakan maknanya tersebut pada hakikatnya telah ditetapkan sebelum perkara itu menjadi kenyataan nantinya. Dan pada akhirnya pun takwil beliau tersebut juga benar-benar menjadi kenyataan. Dan berikut inilah makna ungkapan Nabi Yusuf AS tersebut:

Telah diputuskan (ditetapkan) perkara yang kalian berdua mempertanyakannya (kepadaku).” (Yusuf: 41)

Jadi, dari sini kita akan harus mengakui bahwa sesungguhnya tiada yang pernah berubah dari ketentuan atau ketetapan Allah s.w.t di masa lalu. Penghuni penjara yang telah ditetapkan nasibnya dalam Lauh Mahfudz untuk dibebaskan hingga ia dapat memberi minuman khamr kepada tuannya, maka ia akan pasti menjalani ketetapan tersebut. Dan penghuni penjara yang telah ditetapkan nasibnya untuk disalib hingga sebagian kepalanya harus dimakan oleh burung juga tidak akan mungkin bisa menghindar dari ketetapan tersebut. Semua bentuk ketetapan telah sempurna, dan yang belum sempurna hanyalah pelaksanaannya saja.

Maka sesungguhnya, yang saat ini telah memperoleh sebuah kebaikan berupa hidayah iman dan Islam, misalnya, adalah karena memang jauh sebelumnya telah ditetapkan untuk memperoleh hidayah tersebut pada saat ini. Dan yang saat ini belum memperoleh hidayah iman dan Islam pun juga adalah karena memang sebelumnya telah ditetapkan untuk belum memperoleh hidayah tersebut saat ini. Dan hanya Allah s.w.t sajalah yang lebih tahu tentang siapa saja yang telah dan akan memperoleh hidayah-Nya. Ini berarti bahwa memang perkara hidayah pada hakikatnya juga tidaklah bisa dipaksakan, demikian juga dengan perkara-perkara yang lain. Semuanya hanya akan terwujud dan terlaksana sesuai ketetapan Allah s.w.t saja, dan bukan atas paksaan hamba-Nya sendiri, karena pena takdir telah selesai digoreskan dan tiada yang akan bisa memaksa catatan takdir tersebut untuk berubah. Dalam riwayat hadits telah disebutkan yang artinya berikut ini:

“Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu marabahaya kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan marabahaya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (Riwayat at-Tirmidzi)

“Allah telah menuliskan takdir-takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (Riwayat Muslim)

Dan dari sini, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, yaitu jika memang segala bentuk nasib di masa depan ternyata telah ditentukan atau ditetapkan, lalu mengapa dan untuk apa kita diperintahkan untuk berbuat dan berusaha untuk merubah nasib kita? Mengapa di satu sisi, al-Qur’an dan al-Hadits menjelaskan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya telah ditetapkan dan telah tertulis di dalam Lauh Mahfuudz, jauh sebelum semuanya diciptakan, sedangkan di sisi lain, al-Qur’an juga menjelaskan bahwa nasib suatu kaum itu tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya? Kita tentu juga tidak bisa memungkiri keberadaan ayat al-Qur’an yang artinya berikut ini:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)

Dalam hal ini, tentu pertanyaan yang muncul semacam itu tidaklah bisa kita hindari, karena memang kita seakan-akan mendapati dua kaidah yang tampak saling bertentangan. Namun pada hakikatnya, ketika kita harus memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadits secara keseluruhan, sesungguhnya wujud perintah untuk berbuat dan merubah keadaan semacam itu tak lain adalah sebagai bentuk sebab yang telah dikehendaki oleh Allah s.w.t, yang mana melalui sebab itulah Dia akan merubah gerakan hati suatu kaum untuk mengarahkan ikhtiar mereka kepada suatu perbuatan atau amal tertentu, hingga nasib mereka pun menjadi sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkan sebelumnya.

Pada intinya, Allah s.w.t telah menetapkan bahwa semenjak manusia tidak diberitahu tentang nasib atau takdir masa depan mereka, maka mereka pun menjadi harus berikhtiar dan berbuat sesuatu untuk memenuhi nasibnya, yang pada hakikatnya juga Allah s.w.t sendirilah yang berkuasa menggerakkan mereka ketika mereka sampai bergerak dan berubah, sebagaimana ketika Allah s.w.t sendiri jugalah yang berkuasa menjadikan mereka melempar ketika mereka sampai melempar. Pada kesimpulannya, hakikat takdir itu baru akan diketahui ketika sesuatu telah terjadi. Artinya, ketika misalnya suatu peristiwa baik ataupun buruk telah nyata terjadi di antara manusia, maka memang itulah yang telah ditakdirkan oleh Allah s.w.t atas mereka. Adapun takdir masa depan, maka Allah s.w.t sengaja merahasiakannya agar kerahasiaan tersebut menjadi sebab bagi gerakan mencari atau ikhtiar manusia, dan agar mereka tidak berputus asa atas apa yang telah lalu ataupun hingga terlalu merasa aman dengan nasib masa depan akhirat mereka.

Dan dari beberapa keterangan tentang hakikat takdir tersebut, kita akan dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya yang dapat menyelamatkan diri kita di dunia ini maupun di akhirat kelak ternyata bukanlah diri kita sendiri, melainkan Allah s.w.t dengan ketentuan dan kekuasaan-Nya. Ketika misalnya suatu kaum bisa selamat dari sebuah kesulitan, maka sesungguhnya keberhasilan tersebut bukanlah atas kemampuan atau kekuasaan mereka sendiri, melainkan atas ketentuan dan kekuasaan Allah s.w.t semata. Demikian juga ketika mereka tampak tidak berhasil dalam usaha mereka, yang mana itu juga bukanlah atas kehendak mereka sendiri, melainkan memang karena mereka tidak mungkin sanggup memaksakan apa yang bukan menjadi hak mereka. Semua bentuk kebaikan berupa pencapaian, kesanggupan, hingga keselamatan manusia, pada hakikatnya hanyalah atas kekuasaan dan rahmat Allah s.w.t, dan bukan atas kekuasaan manusia itu sendiri. Sebuah riwayat hadits juga telah menguatkan hal tersebut sebagaimana yang artinya berikut ini:

“Dari Rasulullah s.a.w, bahwa beliau bersabda: ‘Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya.’ Seorang lelaki bertanya: ‘Engkau pun tidak, wahai Rasulullah?’ Rasulullah s.a.w menjawab: ‘Aku juga tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Akan tetapi, tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar.’” (Riwayat Muslim)

Dari makna riwayat tersebut, kita akan harus mengakui bahwa sesungguhnya bukanlah amalan kita yang akan dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak, melainkan Allah s.w.t sendirilah yang akan mampu menyelamatkan kita melalui rahmat-Nya. Namun demikian, meskipun bukan amalan kita yang akan dapat menyelamatkan kita nantinya, kita tetap diharuskan untuk berusaha beramal dengan benar, karena memang isyarat rahmat Allah s.w.t itu akan dapat diketahui melalui amalan ketaatan kepada-Nya. Ketika Allah s.w.t telah berkehendak untuk merahmati suatu kaum atau memberi mereka hidayah, maka Dia akan menjadikan mereka beramal ketaatan kepada-Nya. Dan hanya Allah s.w.t sajalah yang lebih tahu kepada siapa saja Dia memberikan rahmat-Nya tersebut.

Pada kesimpulannya, ketika sebuah kebaikan atau nikmat dapat terwujud dalam suatu kaum, baik berupa nikmat yang tampak sederhana hingga nikmat yang begitu berharga seperti hidayah iman dan Islam, maka mereka harus mengalamatkan semua kebaikan atau nikmat tersebut kepada Allah s.w.t semata, sebagaimana dicontohkan dalam ungkapan ayat al-Qur’an yang artinya berikut ini:

Dan kami sekali-kali tidak akan memperoleh hidayah kalaulah Allah tidak memberi kami hidayah.” (Al-A’raaf: 43)

Namun, ketika suatu keburukan telah terjadi dan menimpa kaum tersebut, maka keburukan itu harus dialamatkan kepada diri mereka sendiri, meskipun mereka juga harus meyakini bahwa itu juga hanya dapat terjadi dengan izin dan kehendak Allah s.w.t semata. Allah s.w.t berfirman yang artinya berikut ini:

Apa saja nikmat yang kamu peroleh, maka itu adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka (itu adalah) dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisaa’: 79)

Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.’” (At-Taubah: 51)

Dan demikian itulah bentuk aqidah umat Islam dalam menyikapi takdir, yaitu bahwa segala kebaikan yang ada haruslah selalu dikembalikan kepada Allah s.w.t, sedangkan segala keburukan yang terjadi haruslah selalu dikembalikan kepada kesalahan diri mereka sendiri, sambil meyakini dengan sepenuhnya bahwa segala kebaikan dan keburukan juga hanya dapat terjadi dengan izin dan kehendak Allah s.w.t semata. Aqidah semacam inilah yang sesuai dengan kehendak syari’at Allah s.w.t, atau yang disebut dengan iraadah syar’iyyah Allah s.w.t. Adapun bentuk kesesatan aqidah dalam perkara takdir, maka itu adalah ketika kita sampai memprotes atau menyalahkan Allah s.w.t atas segala ketetapan-Nya, seperti ketika kita sampai berlarut-larut mempertanyakan keadilan Allah s.w.t bagi segenap makhluk-Nya yang nyatanya berbeda nasib antara satu dengan yang lainnya. Maka semoga kita umat Islam selalu dilindungi Allah s.w.t dari bentuk kesesatan semacam itu.

Demikianlah. Dan dari itu semua, semenjak kita umat Islam sama-sama tidak tahu persis keselamatan nasib masa depan kita nantinya, maka setidaknya kita tidak saling mendoakan keburukan jika kita tidak sampai saling mendoakan keselamatan satu sama lain. Sesungguhnya tiada manusia yang bisa melarikan diri dari rencana dan ketetapan Allah s.w.t, yang karena itulah kita tidak semestinya terlalu merasa aman, hingga kita pun tampak terlalu lepas dan merasa leluasa untuk cenderung mencela perkara yang buruk namun tanpa berupaya memberikan perbaikan, atau bahkan hingga kita melupakan keburukan diri kita sendiri. Jika saja keburukan akan bisa diperbaiki hanya dengan celaan dan tuduhan, maka mungkin Rasulullah Muhammad s.a.w akan lebih banyak mengajarkan kita umatnya bagaimana cara mencela dan menuduh daripada mengajarkan kita bagaimana cara menyikapi keburukan.

Kita tentu mengakui bahwa sesungguhnya tiada manusia yang terjaga dari kesalahan dan dosa seperti Rasulullah s.a.w, dan bahwa sesungguhnya tiada pemilik rahmat kecuali Allah s.w.t, yang karena itulah, mungkin akan lebih patut jika kita biarkan saja pintu rahmat Allah s.w.t tetap terbuka bagi umat beliau sebagaimana mestinya. Jika Rasulullah s.a.w sampai perlu untuk menyeru raja-raja non-Muslim agar memeluk Islam, maka tentu sangatlah bertentangan jika kita yang sudah memeluk Islam justru cenderung saling ingin mengeluarkan sesama Muslim dari Islam, misalnya dengan saling mengkafirkan tanpa bukti dan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, atau bahkan sampai menuduh seseorang yang telah bersyahadat sebagai Dajjal. Jika memang misalnya seseorang tampak murtad dari Islam sekalipun, maka mungkin akan lebih baik jika kita mencari bukti yang jelas dan nyata terlebih dahulu sebelum kita menghukuminya, agar tuduhan kafir tersebut tidak kembali kepada diri kita sendiri jika ternyata orang tersebut tidaklah seperti yang kita tuduhkan. Karena bagaimanapun juga, perkara batin hanyalah wilayah Allah s.w.t semata. Adapun perkara praktis, maka itu tidaklah bisa dinilai sekedar menggunakan prasangka belaka.

Sesungguhnya segala bentuk nikmat dan kebaikan hanyalah milik Allah s.w.t, dan tiada yang pernah benar-benar menjadi milik kita sendiri. Kapan saja Allah s.w.t berhak mencabut atau memberi apapun, dari dan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka sebenarnya tidak pernah ada kerugian ketika sesuatu memang telah ditetapkan untuk luput atau hilang, dan tiada yang perlu diakui sebagai milik sendiri ketika yang telah ada tetaplah ada, karena memang segala ketetapan hanyalah terserah kepada Allah s.w.t, sedangkan kita hanya diperintahkan untuk menerimanya saja. Sesungguhnya hanya ketika kita meragukan ayat-ayat dan janji-janji Allah s.w.t sajalah fikiran negatif dan prasangka buruk akan lebih banyak menguasai kita. Maka semoga Allah s.w.t selalu menganugerahi kita umat Islam fikiran-fikiran positif yang melahirkan ketentraman dan toleransi di tengah-tengah keragaman posisi dan peran umat Islam, agar kita dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan cara yang lebih baik lagi, tanpa kekerasan ataupun pemaksaan yang berakibat kerusakan yang lebih besar. Dan semoga Allah s.w.t menjadikan umat Islam lebih banyak bersyukur atas hidayah iman dan Islam, serta memperkuat ikatan keimanan mereka meskipun nyatanya mereka tampak terpisah secara peran dan fungsi. Sesungguhnya hanya dari dan milik Allah s.w.t sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

Artikel Aslinya ada Disini ......


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Beraqidah Itu Tentram Rating: 5 Reviewed By: Azzahra Assyifa